Dunia internasional, khususnya media-media besar di Jepang, baru-baru ini memberikan perhatian intensif terhadap pergeseran atau adaptasi kebijakan luar negeri Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Sebuah pemberitaan yang viral di media sosial, termasuk yang diunggah oleh platform Seputar Otaku, menunjukkan bagaimana media Negeri Sakura tersebut memberikan catatan kritis terhadap langkah Indonesia dalam menanggapi krisis di Gaza.

Sorotan ini menjadi menarik karena Indonesia selama puluhan tahun dikenal sebagai pendukung paling vokal bagi kemerdekaan Palestina. Namun, narasi yang muncul di media Jepang belakangan ini mengindikasikan adanya persepsi bahwa kebijakan saat ini dianggap “bertentangan” atau setidaknya “bergeser” dari akar sejarah diplomasi Indonesia
Sorotan Media Jepang: Antara Realisme Politik dan Solidaritas Sejarah
Media Jepang seperti NHK, The Japan Times, hingga Kyodo News sering kali melihat Indonesia sebagai pemimpin de facto ASEAN. Oleh karena itu, setiap langkah diplomatik Jakarta terhadap konflik Timur Tengah selalu menjadi berita utama. Dalam beberapa laporan terbaru, media Jepang menyoroti keterlibatan Indonesia dalam forum-forum perdamaian internasional yang digagas oleh kekuatan Barat, termasuk isu mengenai Board of Peace (BoP).
Pemberitaan tersebut mencatat bahwa pendekatan Presiden Prabowo cenderung lebih pragmatis dan realistis. Di satu sisi, Indonesia tetap menyuarakan Two-State Solution (Solusi Dua Negara), namun di sisi lain, kesediaan Indonesia untuk menjalin komunikasi dengan berbagai pihak termasuk melalui mediator yang memiliki hubungan dekat dengan semua aktor konflik—dipandang oleh sebagian pihak sebagai pelemahan terhadap sikap non-blok yang kaku.
Titik Kritik: Benarkah Bertentangan dengan Sejarah?
Gambar banner yang viral menyebutkan bahwa kebijakan Presiden dinilai “bertentangan dengan sejarah Indonesia mendukung Palestina.” Kritik ini biasanya muncul ketika ada isu mengenai normalisasi terselubung atau partisipasi dalam inisiatif perdamaian yang dianggap tidak cukup keras menekan pihak agresor.
Media Jepang melaporkan bahwa publik di Indonesia sendiri mengalami pembelahan opini. Sebagian melihat ini sebagai strategi “Diplomasi Cerdas” untuk mendapatkan posisi tawar di meja perundingan global, sementara yang lain menganggapnya sebagai pengkhianatan terhadap amanat pembukaan UUD 1945 yang menjunjung tinggi penghapusan penjajahan di atas dunia.
Peran Indonesia dalam Misi Perdamaian Global
Meskipun dihujani kritik, media Jepang juga memberikan apresiasi terhadap kesiapan Indonesia mengirimkan pasukan penjaga perdamaian ke Gaza di bawah mandat PBB. Langkah ini dilihat sebagai tindakan konkret yang melampaui sekadar retorika politik. Bagi Jepang, stabilitas di Timur Tengah sangat krusial bagi keamanan energi mereka, dan mereka melihat Indonesia sebagai mitra yang stabil untuk menjembatani komunikasi antara dunia Islam dan Barat.
Dampak Geopolitik dan Hubungan Bilateral Indonesia-Jepang
Hubungan Indonesia dan Jepang tidak bisa dipisahkan dari peta politik global. Saat media Jepang menyoroti kebijakan Indonesia, mereka sebenarnya juga sedang mengukur seberapa jauh Indonesia akan tetap berada di jalur non-blok.
- Kepentingan Investasi: Jepang sangat bergantung pada stabilitas politik Indonesia untuk menjaga investasi infrastruktur dan otomotif mereka. Ketegangan domestik akibat isu Palestina dapat memengaruhi iklim investasi.
- Kerja Sama Pertahanan: Seiring dengan meningkatnya ketegangan di Laut Natuna Utara, Jepang dan Indonesia semakin erat dalam kerja sama militer. Isu Gaza seringkali menjadi “ujian kesetiaan” bagi Indonesia dalam menyeimbangkan hubungan dengan Amerika Serikat dan sekutunya (termasuk Jepang) serta solidaritas terhadap sesama negara muslim.
- Harapan terhadap Kepemimpinan Prabowo: Media Jepang memandang Presiden Prabowo sebagai sosok yang memiliki latar belakang militer kuat yang memahami kalkulasi strategi. Mereka berekspektasi bahwa Indonesia akan memainkan peran “penengah” yang lebih aktif daripada sekadar pemberi pernyataan dukungan.
